![]()
.
Singkawang – Sebanyak 9 titik hotspot terdeteksi di wilayah Koramil 1202-03/Singkawang Tengah, Kota Singkawang, Senin (24/08/2026). Mendapat laporan adanya titik panas tersebut, prajurit TNI bersama Polri, Manggala Agni, Damkar, MPA, pemerintah kelurahan, dan masyarakat langsung bergerak melakukan ground check serta pemadaman. Sekitar 3 hektare lahan terdampak kebakaran. Di tengah panas, asap, dan medan lahan gambut yang sulit, personel gabungan terus berjibaku memutus pergerakan api agar tidak meluas dan mengancam lingkungan maupun permukiman warga.
Sembilan titik hotspot berada di Kelurahan Sungai Bulan dan Kelurahan Sungai Rasau. Kondisi vegetasi berupa rasam, kayu campuran, pepohonan produktif, semak belukar, serta pepohonan kering membuat api berpotensi cepat menjalar. Sebanyak 10 personel TNI dipimpin Danramil 03 Kapten Inf P. Hutagalung, bersama 24 personel Polri, 10 personel Manggala Agni, 4 personel Damkar Satpol PP Kota Singkawang, serta puluhan anggota MPA dan masyarakat dikerahkan ke lokasi. Mereka mengoperasikan enam unit mesin pompa air dan menggunakan peralatan manual untuk menghadang kobaran api.
“Kami tidak boleh membiarkan api berkembang. Begitu hotspot terdeteksi, kami langsung turun untuk memastikan kondisi di lapangan. Panas dan asap bukan alasan untuk berhenti. Selama masih ada api dan bara, kami akan terus lakukan pemadaman sampai situasi benar-benar aman,” tegas Kapten Inf P. Hutagalung. Pasukan menyisir titik-titik yang masih terbakar, melakukan penyiraman, pendinginan, serta memastikan api tidak merambat ke area lain. Koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memperkuat pengendalian kebakaran. Penyebab kebakaran hingga kini masih dalam pendalaman, sementara kondisi cuaca panas pada musim kemarau diduga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kebakaran.
Perjuangan di lapangan berlangsung hingga sore hari. kegiatan pengecekan dan pemadaman selesai dalam kondisi aman. Meski demikian, sejumlah titik masih mengeluarkan asap dan terus mendapat perhatian. Personel juga melakukan patroli serta pengawasan terhadap aktivitas masyarakat, khususnya pembukaan lahan dengan cara membakar. “Kami mengajak masyarakat jangan bermain-main dengan api. Satu titik api bisa berubah menjadi kebakaran besar. Mari kita jaga lahan dan lingkungan bersama. Jangan bakar hutan dan lahan, karena dampaknya bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu udara dan kesehatan masyarakat,” pungkas Kapten Inf P. Hutagalung. Ketika sembilan titik api muncul, para prajurit memilih berdiri di garis depan. Bukan untuk menyerah kepada kobaran, tetapi untuk memastikan api berhenti sebelum Singkawang menjadi korban. (Pendim 1202/Skw)












