![]()
DAIRI – Hamparan jagung yang mulai tumbuh menghijau di Dusun Lae Salak, Desa Lau Sireme, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi, menjadi saksi perbincangan hangat antara petani dan aparat teritorial, Jumat (20/2/2026). Serma Imanuel Ginting tampak bercongkok santai di pematang lahan milik Bapak S. Berutu seluas setengah hektar, menyimak langsung curahan hati petani tentang tantangan yang dihadapi dalam budidaya jagung hibrida.
Di lahan tersebut, S. Berutu menanam jagung hibrida yang selama ini menjadi komoditas andalan warga. Namun, menurutnya, cuaca kemarau panjang kerap menjadi momok. Pertumbuhan tanaman melambat, daun cepat layu, dan ukuran tongkol mengecil. Kondisi ini berdampak pada potensi hasil panen yang tidak maksimal, meski secara teori produksi bisa mencapai rata-rata 7 ton per hektar apabila cuaca mendukung.
Selain faktor cuaca, serangan hama juga menjadi persoalan krusial. Pada usia tanam satu hingga enam minggu, tanaman jagung rentan diserang ulat penggerek batang dan pucuk. Jika tidak segera diantisipasi melalui penyemprotan insektisida, batang tanaman bisa rusak dan mengancam gagal panen. “Di usia muda inilah jagung paling rawan. Kalau terlambat disemprot, bisa habis diserang,” ungkap S. Berutu kepada Babinsa.
Menanggapi hal tersebut, Serma Imanuel Ginting menyatakan akan menyampaikan keluhan petani kepada Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) agar dicarikan solusi bersama. Ia menegaskan, peran Babinsa tidak hanya sebatas pengamanan wilayah, tetapi juga mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk di sektor pertanian sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan desa binaan.
Terpisah, Danramil 04/Tigalingga, Kapten Inf Binton Sinaga, menegaskan pihaknya mendorong seluruh Babinsa aktif turun ke lapangan dan responsif terhadap setiap keluhan warga. Menurutnya, sinergi antara TNI, petani, dan penyuluh pertanian menjadi kunci dalam mewujudkan swasembada pangan. “Harapan baru itu ada ketika komunikasi terjalin baik dan solusi dicari bersama,” ujarnya. (Prajurit Pena)












