![]()
LANGKAT|
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, tak melulu soal beton dan badan jalan. Di sela pekerjaan fisik, prajurit justru merawat satu aspek yang kerap luput: kedekatan dengan warga.
Pemandangan itu tersaji di sebuah warung sederhana. Personel Satgas TMMD duduk berbaur dengan masyarakat.
Obrolan mengalir tanpa protokol—dari kondisi desa hingga progres pekerjaan. Tak ada jarak yang berarti. Yang tersisa hanya percakapan.
Pendekatan semacam ini bukan kebetulan. Pasiter TMMD ke-128, Kapten Inf Supriadi, menyebut komunikasi sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari program. “TMMD bukan hanya membangun infrastruktur, tapi juga membangun kebersamaan. Itu yang membuat pekerjaan di lapangan lebih lancar,” kata dia.
Dalam praktiknya, komunikasi informal justru menjadi kanal efektif. Warga lebih leluasa menyampaikan kebutuhan, sementara prajurit lebih cepat membaca situasi. Relasi yang terbangun tak kaku, tapi fungsional.
Respons masyarakat pun cenderung positif. Kehadiran Satgas TMMD tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan sementara, melainkan bagian dari dinamika desa. Interaksi yang intens mempercepat gotong royong—sesuatu yang menjadi tulang punggung program ini.
TMMD di Pasar Rawa menunjukkan satu hal: pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pembangunan sosial. Jalan dan jembatan mungkin selesai dalam hitungan waktu. Tapi kepercayaan—yang dibangun dari percakapan sederhana—menjadi fondasi yang bertahan lebih lama.(red)










