![]()
LUMAJANG — Pagi belum tinggi, tapi halaman Ponpes Darun Najah di Desa Sanjaran Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, sudah penuh. Warga berdatangan, antre, menunggu giliran. Angkanya tak main-main: 537 orang memadati layanan kesehatan gratis, Sabtu (2/5/2026).
Bakti sosial ini digelar oleh Djarum Foundation melalui program Djarum Sumbangsih Sosial, berkolaborasi dengan Yayasan Bangun Sehat Indonesiaku (YBSI). Ini bukan kegiatan biasa—melainkan pelaksanaan ke-91, bagian dari rangkaian panjang layanan medis untuk pesantren di Jawa Timur.
Di lokasi, suasana nyaris seperti klinik besar dadakan. Warga umum, santri, hingga pengurus pondok duduk berderet menunggu pemeriksaan. Layanan yang dibuka cukup lengkap: dari pemeriksaan umum, gigi, laboratorium, hingga spesialis THT. Semua gratis.
Data menunjukkan tingginya kebutuhan. Dari total 537 pasien, sebanyak 328 berasal dari masyarakat umum (termasuk 198 pemeriksaan laboratorium), 124 santri, 58 layanan gigi, dan 27 kasus ditangani dokter spesialis THT.
Penyakit yang ditemukan pun menggambarkan realitas di lapangan: hipertensi dan osteoartritis pada warga, serta ISPA, gangguan kulit, hingga faringitis pada santri. Masalah klasik—yang sering dibiarkan, hingga akhirnya menumpuk.
“Ini bukan hanya soal berobat, tapi juga edukasi,” ujar tim medis di lokasi. Selain pengobatan, warga juga dibekali pemahaman tentang pola hidup sehat dan pencegahan penyakit.
Sebanyak 35 tenaga kesehatan diterjunkan. Mulai dari dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, perawat, hingga tim laboratorium dan relawan.
Bahkan unit dental mobile ikut dihadirkan—memberi layanan yang tak kalah dengan fasilitas kesehatan formal.Kepala Desa Sumarli menyebut kegiatan ini sebagai kesempatan langka bagi warga. “Mari dimanfaatkan sebaik mungkin,” ujarnya.
Sejak 2014, program ini telah menjangkau lebih dari 90.000 warga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Angka besar, tapi maknanya terasa sederhana di lapangan: satu per satu warga pulang dengan kepastian—tentang kondisi tubuhnya, dan tentang harapan untuk lebih sehat.
Di Ponpes Darun Najah hari itu, antrean panjang bukan sekadar kerumunan. Ia adalah tanda: kebutuhan itu nyata—dan ketika akses dibuka, warga datang tanpa ragu.












