![]()
LANGKAT |
Tidak ada seremoni di sudut Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, pagi itu. Hanya tiga personel TNI, kuas di tangan, mengecat dinding bangunan kecil yang masih berwarna semen. Di tanah, ember cat terbuka. Di sampingnya, sebuah kloset diletakkan—menunggu dipasang.
Dua unit mandi cuci kakus (MCK) itu hampir selesai.
Memasuki hari ke-12 pelaksanaan TMMD ke-128 tahun 2026, pekerjaan telah bergeser dari membangun ke merapikan. Dinding diplester ulang, cat dilapiskan, bagian dalam dibersihkan. Ini tahap yang kerap luput dari perhatian—padahal di sinilah fungsi sebuah bangunan ditentukan.
Tak ada keramaian. Tak pula terlihat banyak orang. Yang ada hanya kerja yang berlangsung pelan, tapi pasti.
Satgas TMMD Kodim 0203/Langkat mengerjakan apa yang selama ini sering dianggap kecil: fasilitas sanitasi. Di banyak desa, urusan ini kerap berada di urutan belakang—dikalahkan jalan, jembatan, atau proyek yang lebih mudah dilihat hasilnya.
Padahal, dari ruang kecil seperti inilah persoalan besar sering bermula.
Sanitasi buruk tak selalu terlihat, tapi dampaknya nyata—dari penyakit hingga kualitas hidup yang rendah. MCK menjadi batas tipis antara keduanya: ada atau tidak, layak atau tidak.
Seorang personel Satgas di lokasi menyebut pembangunan ini sebagai kebutuhan dasar.
“Supaya warga bisa pakai dengan aman dan nyaman,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Pernyataan itu terdengar sederhana. Tapi realitasnya tidak selalu demikian.
Di Pasar Rawa, dua unit MCK mungkin bukan jawaban dari seluruh persoalan sanitasi. Namun setidaknya, ini adalah awal—upaya memperbaiki sesuatu yang selama ini berjalan apa adanya.
Bangunan itu kini berdiri dengan bentuk yang mulai utuh. Cat masih basah. Lantai belum sepenuhnya kering. Tapi fungsinya sudah bisa dibayangkan.
Orang akan mandi di sana. Mencuci. Menggunakan air bersih dengan cara yang lebih layak.
Dan seperti banyak proyek kecil lainnya, keberhasilan MCK ini mungkin tidak akan diukur saat diresmikan.(red)












