![]()
Manado, 6 Mei 2026 – Di tengah arus modernisasi industri kreatif yang semakin didominasi teknologi, Dewi Bordir hadir sebagai representasi kuat dari ketekunan menjaga tradisi. UMKM yang bergerak di bidang kerajinan bordir ini menjadi salah satu produk unggulan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat—daerah yang telah lama dikenal sebagai pusat bordir berkualitas di Indonesia.
Usaha ini diprakarsai oleh Ny. Dewi Mamiek, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Ranting 4 Yonif TP 868 Cabang LXIV Brigif 22 Kodam XIII/Merdeka. Dewi Bordir bukan sekadar unit usaha, melainkan juga wujud nyata pelestarian budaya melalui karya bordir yang dikerjakan dengan ketelitian dan nilai seni tinggi.
Kini memasuki generasi kedua, usaha ini diteruskan oleh keluarga yang mulai terjun sejak tahun 2011 setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Keberlanjutan ini tidak hanya mencerminkan regenerasi bisnis, tetapi juga komitmen menjaga warisan budaya yang telah dibangun sejak generasi sebelumnya.
Dalam proses produksinya, Dewi Bordir tetap mempertahankan teknik tradisional. Seluruh produk dikerjakan secara manual menggunakan mesin kejek, alat bordir yang digerakkan dengan kayuhan kaki tanpa listrik serta mesin manual Juki. Pendekatan ini menjadikan setiap karya memiliki keunikan tersendiri, berbeda dari hasil produksi massal berbasis mesin komputer.
Produk utama yang dihasilkan adalah kain kebaya bordir dengan motif eksklusif hasil desain sendiri. Setiap produk dikemas secara elegan, mencerminkan identitas budaya sekaligus nilai estetika yang tinggi.
Dalam perjalanannya, berbagai tantangan dihadapi, terutama terkait keterbatasan sumber daya manusia dan sulitnya regenerasi tenaga kerja di bidang kerajinan manual. Di sisi lain, persaingan industri bordir yang kini didominasi teknologi komputer turut menjadi tekanan tersendiri. Namun demikian, Dewi Bordir tetap konsisten mempertahankan metode tradisional sebagai bentuk komitmen menjaga keaslian warisan budaya.
Atas dedikasi tersebut, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana PD XIII/Merdeka, Ny. Lely Mirza Agus, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberlangsungan Dewi Bordir. Ia menilai bahwa upaya ini tidak hanya berdampak pada penguatan ekonomi keluarga, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga identitas budaya daerah.
Pelaksanaan kegiatan yang menampilkan karya Dewi Bordir berlangsung pada hari Kamis, 7–9 Mei, bertempat di Balai Kartini, Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk bordir khas Tasikmalaya kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi UMKM dalam industri kreatif nasional.
Di tengah peran sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana, sekaligus sebagai istri dan ibu, pengelola Dewi Bordir tetap menunjukkan konsistensi dalam berkarya. Usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga simbol ketahanan dan kemandirian perempuan dalam industri kreatif.
Ke depan, Dewi Bordir memiliki tekad untuk memperluas jangkauan pasar agar lebih dikenal secara luas. Lebih dari itu, usaha ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat tetap berjalan, bahkan di tengah mobilitas kehidupan yang dinamis, termasuk saat harus berpindah mengikuti tugas dinas suami.
Dewi Bordir bukan sekadar bisnis, tetapi sebuah perjalanan menjaga tradisi, merawat identitas, dan membangun masa depan berbasis nilai budaya.











