![]()
HUMABAHAS|
Kopi identik minuman pergaulan dimana-mana dan dengan minum kopi di warung seseorang bisa bertambah kenalan dan ilmu pengetahuan umumnya. Hal ini kerap dilakukan personel Satgas TMMD 129 Kodim 0210/TU di lokasi TMMD.
Di bawah atap seng Warung Kopi milik bapak J.Munthe yang membara oleh terik diwilayah Desa Sijarangon Dua,Kecamatan Pakkat, sebuah proyek negara sedang “ditunda” secara organik.Jumat ini, sekat antara bedil dan cangkul luruh di atas meja kayu yang legam dimakan usia.
Prajurit berseragam loreng duduk merapat dengan warga. Tak ada laras panjang yang disandang, tak ada protokoler kaku.
Yang ada hanya gestur persuasif dan cangkir kopi. Di “ruang ketiga” inilah, Satgas TMMD ke-129 Kodim 0210/TU memilih menyelesaikan masalah,mulai dari urusan pematang sawah yang terancam alat berat, hingga edukasi digital.
”Bijaklah bermedsos dan jangan sembarangan men-share info yang belum jelas,” ujar personel Satgas .
Bagi Satgas, jalan baru 5.300 meter yang sedang mereka bangun akan sia-sia jika masyarakatnya rapuh akibat termakan hoaks dan kecurigaan.
Pendekatan informal ini sengaja diambil untuk menghindari jebakan proyek top-down yang kerap berakhir menjadi “monumen mati” karena asing bagi warga lokal.
“Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan komunikasi,” katanya
Sementara itu, Dansatgas TMMD 129 melalui Wadansatgas Mayor Arh A.S. Butar-butar.SH.MH menegaskan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat bukan barang gratis yang jatuh dari langit. “Ia adalah hasil dari perdebatan, kesepakatan kecil, dan saling percaya yang lahir dari meja warung kopi,” ujarnya.
Siang merambat, namun obrolan di Warung pak Munthe belum bubar. Di desa ini,alat berat dan perkakas tukan semen akhirnya menemukan perekat terbaiknya: kepercayaan masyarakat.
Wadansatgas TMMD ke 129 mengatakan bahwa kegiatan seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan antara TNI dan masyarakat di lokasi sasaran.
“Dengan minum kopi bersama, hubungan antara anggota Satgas TMMD dan warga menjadi lebih akrab. Obrolan pun bisa mengalir lebih santai dan terbuka,” ujar Mayor Arh AS Butarbutar
“Ngopi itu kegiatan sederhana tapi penuh makna. Bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Keakraban tumbuh karena suasananya santai, sehingga rasa canggung bisa hilang,” katanya.(red)










