![]()
Denpasar – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) II, Marsdya TNI Muzafar, S.Sos., M.M., selaku Panglima Komando Gabungan Terpadu (Pangkogabpad) dalam serial Latihan Kesiapsiagaan Operasi (LKO) memimpin langsung Apel Gelar Pasukan kesiapan Penanggulangan Bencana gempa Megathrust dan Tsunami Jawa Bali, yang digelar di lapangan Makorem 163/WSA, Jum’at, (7/8/2026).
Apel gelar pasukan ini diikuti sebanyak 503 personel gabungan serta materiil pendukung untuk membuktikan Latihan Kesiapsiagaan Operasi ini bukan sekadar rutinitas formalitas atau latihan di atas kertas semata, melainkan pembuktian nyata atas kesiapan komando taktis dan operasional di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan Bali sebagai pusat pariwisata dunia sekaligus garis depan yang rentan bencana selalu siap siaga merespons potensi darurat secara cepat dan terpadu.
Dalam sambutannya, Pangkogabwilhan II Marsekal Madya TNI Muzafar, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukanlah tugas satu institusi semata, melainkan kerja sama terintegrasi lintas sektor.
“Apel gelar kesiapan yang kita laksanakan hari ini merupakan bagian penting untuk memastikan kesiapan personel, materiil, sarana dan prasarana, sistem komando dan pengendalian, komunikasi, mobilitas, dukungan logistik, serta mekanisme koordinasi antar unsur apabila sewaktu-waktu terjadi bencana alam di wilayah Bali dan sekitarnya.
Dalam kondisi darurat, kecepatan adalah faktor penentu, tetapi keterpaduan adalah kunci keberhasilan. Setiap keterlambatan dalam pengambilan keputusan, pengerahan kekuatan, maupun distribusi bantuan dapat berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.” tegas Pangkogabpad.
Menghadapi potensi ancaman megathrust, kesiapsiagaan harus dibangun, diuji, dievaluasi, dan disempurnakan secara terus menerus guna melindungi garis pantai Bali dan sekitarnya.
Mengintegrasikan kekuatan TNI, Polri, Pemerintah Daerah, BPBD, BMKG, Basarnas, unsur kesehatan, dan Kementerian/Lembaga terkait dalam satu tindakan nyata yang terkoordinasi.
==LanjutPangkogabpad Pimpin Apel Gelar Pasukan, Pastikan Kesiapan Penanggulangan Bencana Gempa Megathrust dan Tsunami Wilayah Jawa Bali.
Denpasar – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) II, Marsdya TNI Muzafar, S.Sos., M.M., selaku Panglima Komando Gabungan Terpadu (Pangkogabpad) dalam serial Latihan Kesiapsiagaan Operasi (LKO) memimpin langsung Apel Gelar Pasukan kesiapan Penanggulangan Bencana gempa Megathrust dan Tsunami Jawa Bali, yang digelar di lapangan Makorem 163/WSA, Jum’at, (7/8/2026).
Apel gelar pasukan ini diikuti sebanyak 503 personel gabungan serta materiil pendukung untuk membuktikan Latihan Kesiapsiagaan Operasi ini bukan sekadar rutinitas formalitas atau latihan di atas kertas semata, melainkan pembuktian nyata atas kesiapan komando taktis dan operasional di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan Bali sebagai pusat pariwisata dunia sekaligus garis depan yang rentan bencana selalu siap siaga merespons potensi darurat secara cepat dan terpadu.
Dalam sambutannya, Pangkogabwilhan II Marsekal Madya TNI Muzafar, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukanlah tugas satu institusi semata, melainkan kerja sama terintegrasi lintas sektor.
“Apel gelar kesiapan yang kita laksanakan hari ini merupakan bagian penting untuk memastikan kesiapan personel, materiil, sarana dan prasarana, sistem komando dan pengendalian, komunikasi, mobilitas, dukungan logistik, serta mekanisme koordinasi antar unsur apabila sewaktu-waktu terjadi bencana alam di wilayah Bali dan sekitarnya.
Dalam kondisi darurat, kecepatan adalah faktor penentu, tetapi keterpaduan adalah kunci keberhasilan. Setiap keterlambatan dalam pengambilan keputusan, pengerahan kekuatan, maupun distribusi bantuan dapat berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.” tegas Pangkogabpad.
Menghadapi potensi ancaman megathrust, kesiapsiagaan harus dibangun, diuji, dievaluasi, dan disempurnakan secara terus menerus guna melindungi garis pantai Bali dan sekitarnya.
Mengintegrasikan kekuatan TNI, Polri, Pemerintah Daerah, BPBD, BMKG, Basarnas, unsur kesehatan, dan Kementerian/Lembaga terkait dalam satu tindakan nyata yang terkoordinasi.
Sumber : Penkogabwilhan II












