![]()
KAYAN HILIR, SINTANG – Seorang warga Kecamatan Kayan Hilir, Akiam (62), mengalami kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah setelah kebun sawit miliknya seluas 5 hektare terbakar.
Hal tersebut disampaikan Ketua Kelompok Penyuluh Satgas Karhutla TNI wilayah Kayan Hilir, Kolonel Arh Saptarendra Persada, S.T., M.M., dalam keterangannya di Kayan Hilir, Sintang, Kalimantan Barat, Selasa (1/9/2026).
Saptarendra menjelaskan, kegiatan penyuluhan pencegahan dan pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang dilaksanakan tim tidak hanya dilakukan melalui dialog dengan aparat maupun tokoh adat, tetapi juga melalui komunikasi sosial dengan masyarakat.
“Di antaranya kami bertemu dengan Pak Akiam, warga Desa Monbay Begunuk, Kecamatan Kayan Hilir. Kebun sawit miliknya terbakar dan hingga saat ini tidak diketahui siapa pelakunya. Luas lahan yang terbakar sekitar 5 hektare,” ujar Saptarendra.
Menurutnya, sekitar 500 pohon sawit milik Akiam ikut terbakar. Tanaman tersebut diketahui baru berusia sekitar dua tahun.
“Jika dikalkulasikan berdasarkan ketentuan denda adat, kerugiannya bisa mencapai sekitar Rp100 juta,” imbuhnya.
Saptarendra menjelaskan, ketentuan adat di wilayah Kayan Hilir cukup tegas terhadap kasus kebakaran yang menyebabkan kerugian pada lahan milik warga lainnya. Apabila tanaman milik orang lain terbakar, terdapat kewajiban untuk memberikan ganti rugi sesuai ketentuan yang berlaku.
“Denda adat di Kayan Hilir cukup ketat. Jika ada pohon milik orang lain yang terbakar, maka harus mengganti Rp150.000 per pohon karet dan Rp250.000 per pohon sawit. Namun, karena pelakunya tidak diketahui, Pak Akiam hanya bisa menerima musibah tersebut,” terang Saptarendra.
Diketahui, kebun sawit milik Akiam yang memiliki luas sekitar 5 hektare dengan usia tanam dua tahun tersebut berada di wilayah Belonti, Desa Monbay Begunuk, Kecamatan Kayan Hilir. Kebakaran terjadi pada Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 19.45 WIB. Hingga saat ini, penyebab kebakaran belum diketahui.
“Akibat kelalaian seseorang, dampaknya bisa merugikan orang lain dengan nilai yang cukup besar. Karena itu, tim penyuluh tidak hanya menyasar para petani, tetapi juga anak-anak sekolah dan para pemuda, sehingga kesadaran dalam mencegah Karhutla dapat ditanamkan sejak dini,” ujar perwira lulusan Akmil 1996 tersebut.
Sementara itu, saat berdialog dengan Kelompok Penyuluh Satgas Karhutla TNI, Akiam menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, pembukaan lahan dilakukan menggunakan excavator berukuran kecil.
“Saya tidak pernah membuka lahan dengan cara membakar, tetapi menggunakan excavator,” tegasnya.
Terkait musibah yang dialaminya, Akiam mengaku hanya bisa menerima dan berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi, baik terhadap dirinya maupun warga lainnya.
“Dengan kejadian ini, kami hanya bisa mengikhlaskan karena pelakunya juga tidak tahu siapa,” ujar Akiam.
Dalam kunjungan tersebut, Saptarendra didampingi anggota Tim Penyuluh Satgas Karhutla TNI lainnya, yakni Kolonel Laut (Kh) Chumaedy, Kolonel Kes Robbi Mandolin, serta Babinsa Koramil 1205-17/Kayan Hilir Sertu Daniel.
Akiam menyambut baik kegiatan penyuluhan yang dilakukan kepada masyarakat, termasuk penguatan komitmen bersama melalui ketentuan adat. Menurutnya, edukasi kepada masyarakat penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi penyebab kebakaran, termasuk puntung rokok.
“Terima kasih atas kunjungannya. Semoga dengan adanya penyuluhan seperti ini bisa menyadarkan warga untuk lebih berhati-hati. Dari kejadian ini, saya juga sebenarnya ingin ikut asuransi, tetapi belum mengetahui bagaimana prosedurnya dan besaran premi tahunannya. Mudah-mudahan tidak terlalu berat,” ujarnya penuh harap.
“Kebakaran seperti ini bisa terjadi secara tiba-tiba di musim kemarau, apalagi banyak ranting dan daun yang kering,” pungkasnya.
#pendim1205












