![]()
Manado, 3 Mei 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi industri kreatif, sebuah usaha mikro kecil menengah (UMKM) bernama Dewi Bordir tetap teguh mempertahankan tradisi kerajinan bordir manual sebagai warisan budaya. Usaha ini digawangi oleh Ny. Dewi Mamiek, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Ranting 4 Yonif TP 868 Cabang LXIV Brigif 22 Kodam XIII/Merdeka.
Dewi Bordir merupakan bagian dari industri rumahan yang bergerak di bidang kerajinan bordir, salah satu produk unggulan khas Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Usaha ini kini telah memasuki generasi kedua, melanjutkan perjuangan orang tua yang lebih dulu merintis usaha tersebut.
Sejak tahun 2011, setelah menyelesaikan pendidikan, generasi penerus Dewi Bordir mulai aktif mengembangkan usaha ini. Hingga kini, mereka tetap konsisten berkarya di tengah kesibukan sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana, sekaligus menjalankan peran sebagai istri dan ibu dalam keluarga.
Keunikan Dewi Bordir terletak pada proses produksinya yang masih menggunakan teknik manual. Pengerjaan dilakukan dengan mesin kejek—mesin tradisional yang digerakkan dengan kayuhan kaki tanpa listrik—serta mesin manual Juki. Produk unggulan yang dihasilkan berupa kain kebaya bordir dengan motif eksklusif hasil desain sendiri, yang dikemas secara elegan.
Dalam perjalanannya, Dewi Bordir menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal ketersediaan tenaga kerja. Regenerasi pengrajin bordir kini semakin sulit, ditambah persaingan industri yang beralih ke penggunaan mesin bordir komputer. Namun demikian, Dewi Bordir tetap memilih mempertahankan metode tradisional sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan budaya. “Keputusan kami untuk tidak beralih ke mesin komputer adalah bentuk tekad dalam menjaga nilai seni dan warisan budaya yang mulai tergerus oleh modernisasi,” ungkap pengelola Dewi Bordir.

Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah XIII/Merdeka, Ny. Lely Mirza Agus, memberikan apresiasi atas dedikasi dan konsistensi Dewi Bordir dalam melestarikan budaya melalui karya kreatif.
“Kami sangat bangga dengan keberadaan UMKM seperti Dewi Bordir yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya. Ini menjadi contoh nyata bahwa anggota Persit mampu berdaya, mandiri, serta berkontribusi dalam menjaga warisan budaya bangsa di tengah arus modernisasi,” ujar Ny. Lely Mirza Agus.
Meski dihadapkan pada berbagai kendala, semangat untuk terus berkarya tidak pernah surut. Usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga simbol dedikasi dalam menjaga identitas budaya daerah.
Dengan tekad yang kuat, Dewi Bordir berharap produknya dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat. Lebih dari sekadar usaha, Dewi Bordir menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan peran perempuan dalam keluarga dan organisasi, meskipun harus berpindah-pindah mengikuti tugas suami.












