![]()
LANGKAT|
Dindingnya lapuk, atapnya bocor, lantainya tak lagi rata. Selama bertahun-tahun, rumah itu berdiri dalam kondisi yang nyaris tak layak disebut tempat tinggal.Fi Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, situasi seperti ini bukan cerita tunggal.Baru pada Senin, 4 Mei 2026, negara benar-benar “masuk” ke halaman rumah warga. Lewat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Langkat, personel TNI dan Polri bersama warga mulai membongkar dan memperbaiki rumah tidak layak huni (RTLH) milik masyarakat kurang mampu.
Palu menghantam kayu tua. Seng diangkat.Tiang diperkuat.Yang dibongkar bukan sekadar rumah, tapi juga potret lama tentang keterbatasan.Program rehab RTLH ini menjadi salah satu sasaran fisik TMMD—program lintas sektoral yang kerap hadir sebagai “jalan cepat” pembangunan di desa.
Targetnya jelas menghadirkan hunian yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih manusiawi.Namun, fakta bahwa rumah seperti itu bisa bertahan lama dalam kondisi rusak, menyimpan pertanyaan yang tak sederhana.
Di lapangan, suasana berbeda terlihat. Tak ada jarak antara aparat dan warga. Mereka bekerja bersama—mengangkat material, memasang rangka, menyelesaikan bagian demi bagian.
Pasiter Kodim 0203/Langkat, Kapten Inf Supriadi, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kemanunggalan TNI dengan rakyat.
“Bukan hanya membangun rumah, tapi juga membangun kebersamaan,” ujarnya.
Pernyataan itu menemukan bentuknya di lokasi. Gotong royong menjadi tenaga utama, sekaligus perekat sosial yang lama dikenal di desa.
Bagi Irwansyah, penerima bantuan, perubahan itu terasa nyata. Rumah yang sebelumnya rapuh kini mulai berdiri lebih kokoh.“Dulu khawatir kalau hujan. Sekarang sudah jauh lebih baik,” katanya.
Program RTLH memang menyentuh kebutuhan paling dasar: tempat tinggal. Ia bukan sekadar soal fisik bangunan, tetapi juga menyangkut martabat hidup.
Namun, seperti proyek TMMD lainnya, rehab ini juga membuka lapisan pertanyaan: berapa banyak rumah serupa yang belum tersentuh.
Di Pasar Rawa, satu rumah mulai berubah. Tapi di balik itu, ada kenyataan yang lebih luas—bahwa kebutuhan dasar seperti hunian layak masih menunggu untuk dipenuhi, satu per satu, program demi program.Dan di sinilah ironi itu berdiri: ketika satu rumah akhirnya diperbaiki, kita diingatkan bahwa masih banyak yang belum.(red)










